Cecep Mohammad Kapi, S.Kom

 

BIODATA

Nama

Tempat Tanggal Lahir

Alamat

 

 

Pendidikan

Cecep Mohamad Kapi

Tasikmalaya, 21 Sept 1972

Kompleks Pesantren Sukaresik Jl. KH. Moch. Bagowi No. 1 Desa Cipacing Kec. Pagerageung Ciawi Tasikmalaya

- SDN Puteran I

- SMPN 1 Pagerageung

- SMAN 2 Tasikmalaya

- AMIK BN Cirebon

- STMIK Bandung

- Magister Manajemen Universitas Siliwangi

 

Sisi Lain

 

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.


Kita juga lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

 

Selain itu, dunia ini ibarat sebuah lautan yang luas, dan kita adalah kapal yang berlayar di lautan yang telah banyak kapal karam didalamnya. Namun andai muatan kapal kita adalah iman,dan layarnya adalah takwa, yakinlah bahwa kita tidak akan pernah tersesat di lautan kehidupan itu.

 

Tulisan diatas hanya sebuah pengantar cerita saja. Dulu waktu masih kecil, saya punya sebuah sarung. Kehebatan dari sarung yang dimiliki ini bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan sampai menjadi alat untuk menakut-nakuti.

 
Kalau saya lagi mencuci baju, sarung bisa dikemulkan pada badan atasnya. Kalau lagi mencuci celana, sarung bisa dijadikan bawahan. Kalau lagi cari sisa-sisa panen kedelai sawah orang kaya, sarung itu bisa dijadikan karung. Kalau perut lagi lapar dan dirumah tidak ada makanan, sarung bisa diikatkan erat-erat dipinggang jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau mau sholat jadilah dia benda yang penting untuk menghadap Tuhan. Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau sarung itu sobek masih bisa dijahit. Kalau ditempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalanya pun robek, sarung itu belum tentu akan pensiun. Masih bisa dirobek-robek lagi, bagian yang besar bisa digunakan sebagai sarung bantal dan bagian yang kecil bisa dijadikan popok bayi. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita ini, bahwa apapun kondisi kita, baik kurang, cukup atau lebih kita harus tetap bersyukur, sabar dan harus menikmati semuanya dengan apa adanya

 

Yang diatas cerita waktu kecil. Kalo udah gede ceritanya udach bergeser lagi, sedikit ilmiah lah. Untuk membangun Institusi yang solid seperti Politeknik Triguna tercinta ini, kita harus senatiasa memiliki inisiatif untuk terus maju dan berkembang sesuai dengan harapan. Harapan inilah yang nantinya menjadi manufacturing hope dengan modal niat baik, kerja keras, ikhlas dan totalitas maka semuanya akan berjalan sukses.

Manufacturing hope atau mengelola harapan sebenarnya adalah penyaluran pengetahuan individu kepada pengetahuan kolektif sesuai dengan harapan-harapan dalam membangun institusi. Ini berarti bahwa penyatuan ide-ide dasar yang  dimiliki oleh kita kepada seluruh jajarannya agar mampu berjalan dengan tujuan bersama untuk memajukan institusi dengan pemikiran-pemikiran yang maju.

 

Udach dulu ach, mudah-mudahan bermanfaat. Semoga cerita udah gede nya bisa terealisir dengan manufacturing hope, Politeknik Triguna Tasikmalaya semakin maju dan menjadi Politeknik yang terdepan, Amin.

 

<< Back